#tanya…

#tanya
#diskusi

Saya cek web saya pagespeed dapet skor 80 sektor mobile. 85% visitor web saya mobile.

Sudah berkali2 google menyarankan untuk pasang AMP.
Kawan2 yang webnya sudah terbilang lumayan trafiknya, pada pasang AMP nggak? Gimana pengaruhnya ya dari segi pendapatan dan kecepetan dan kepuasan, mohon sharingnya

Dan lagi apakah pengaruh cpc adsense untuk web lambat sama web dengan amp alias cepat aksesnya?

Source

9 comments

  1. AMP itu produk google jelas dia bakal nawarin produk nya ke semua yang punya website, na sama kaia orang jualan lah pasti semua produk ditawarin

  2. Sepengetahuan sy, selama ini blog AMP dominan merajai page 1 (sebelum tanda petir ilang) krena halaman AMP rata2 pasti cepat. Update terbaru nnti yg merajai page 1 adalah yg lolos CWV (AMP dan Non). Jdi kalau non AMP sdh lolos CWV ya abaikan AMP. Dari segi pendapatan mnurut sy 11 12 kalau penempatan iklannya tdak brubah.

  3. AMP adalah semacam format atau kerangka HTML baru yang hadir untuk meningkatkan kecepatan akses di pengguna/browser mobile. Jadi ada aturan baru di komponen2 yang menyusun sebuah web bila ingin pakai AMPHTML. Misal tag2 HTML-nya harus diubah atau disesuaikan, penggunaan CSS-nya kudu inline, script2 yang tidak boleh asal pasang/sembarangan, dll.

    Pakai AMP juga bukan berarti fitur web kita jadi terbatas. Banyak fitur di HTML (non-AMP) yang punya padanannya di AMPHTML. Bahkan web2 saya yang mendukung AMP, fitur dan tampilannya cenderung sama dengan versi non-AMP-nya. Tidak bisa sama persis 100% mungkin iya, tapi kalau dibilang banyak yang hilang, tidak!

    Setahu saya mengimplementasikan AMP itu sangat penting karena salah satu SERP Enhancements yang dianjurkan Google. Jadi, selama penopang traffic utama blog2 kita adalah mesin pencari Google, tidak ada alasan untuk tidak menuruti apa pun yang diminta atau dianjurkan oleh Google. Terlepas AMP juga ada kekurangan di sana-sini.

    Apakah SERP Enhancements sama dengan rank faktor? Tidak sama, SERP Enhancements itu sematjam fitur2 unik Google dalam menampilkan link web di SERP, seperti top stories, top carousel, breadcrumbs dll. Meski bukan rank faktor, SERP Enhancements kadang diperlukan oleh publisher kecil untuk sikut2an dengan situs2 raksasa, misal Tribun, Detik, Kompas dll.

    Selain itu, web2 yang mengimplementasikan AMP juga dapat bonus cache di SERP. Maksudnya, Google sudah me-request web assets URL/Page AMP pada saat visitor (peng-Googling) belum membuka halaman AMP tersebut. Konsekuensinya, saat user klik laman AMP di SERP ya langsung kebuka gitu aja seperti tanpa load.

    AMP juga merupakan satu dari sekian “propaganda Google” yang biasanya diawali dari sekadar menyarankan, lalu perlahan-lahan mulai mewajibkan (entah kapan). Saya sendiri sebagai “penghamba Google” memilih cara aman dengan jadi early adopter AMP dan produk2 Google lain yang sedang atau akan dipropagandakan.

    Namun begitu, harus siap juga bila sewaktu-waktu Google berubah pikiran di tengah jalan atau menggulirkan fitur/kebijakan yang tidak populer. Misal dalam salah satu rilisnya sekira dua tahun silam, Google menyebut beberapa (tidak semua) kelebihan AMP page di SERP ke depannya akan bisa dinikmati juga oleh page/index non-AMP.

  4. Berbicara tentang performa AMP ads atau iklan yang ada di laman AMP, di platform iklan apa pun lazimnya memang lebih rendah ketimbang non-AMP. Jadi malah tidak sesuai dengan klaim atau yang dijanjikan Google dalam propaganda selama ini. Kenapa bisa begitu? Saya melihatnya ini terjadi lantaran variasi unit AMP saat ini masih kalah jauh ketimbang non-AMP, sehingga fill rate akan selalu di belakang unit non-AMP.

    Saya sertakan contoh fill rate + eCPM unit/slot iklan blog saya. Bisa dilihat fill rate unit AMP selalu ketinggalan di slot2 iklan utama alias dalam konten (top, mid, bot) yang identik placement-nya antara versi AMP dan non-AMP. Pengecualian di unit “loop”, itu karena unit2 “archive-type page” tidak saya bikin identik placement-nya. Sehingga pada unit2 dengan nama sama/setara, sebenarnya tidak se-identik formasi unit2 di single/konten (top, mid, bot).

    Kalau untuk eCPM-nya tidak ada persoalan ya, seragam semua bahwa AMP-nya kalah, kalah, dan kalah. Jika kondisinya seperti itu, kok masih bertahan dengan AMP? Bahkan 70-80% traffic saya dari AMP. Mengimplementasikan AMP itu sangat penting karena salah satu SERP Enhancements yang dianjurkan Google. Jadi, selama penopang traffic utama blog2 kita adalah mesin pencari Google, tidak ada alasan untuk tidak menurutinya.

    Sekali lagi saya ulangi, AMP adalah satu dari sekian banyak “propaganda Google” yang biasanya diawali dari sekadar menyarankan. Usai menyarankan, bisanyanya perlahan-lahan mulai mewajibkan (entah kapan). Walau tak jarang “propaganda Google” ada yang mati di tengah jalan. Saya sendiri sebagai “penghamba Google” memilih cara aman dengan jadi early adopter AMP dan produk2 Google lain yang sedang atau akan dipropagandakan.

    **Data di gambar tersebut sebenarnya untuk performa Google Ad Exchange (AdX) alias versi “premiumnya” Adsense, tapi menurut saya bisa dijadikan acuan juga untuk melihat performa AdSense di AMP.

Leave a comment

Your email address will not be published.