minta referensi web commerce yg jualan sayur atau web commerce pasar tradisional tapi yg web nya ben…

minta referensi web commerce yg jualan sayur atau web commerce pasar tradisional tapi yg web nya benar benar ramai dikunjungi oleh pembeli, karena yg saya lihat di google kebanyakan sepi pembeli nya.

Source

11 comments

  1. Sepi atau ramai tergantung branding dan promosi serta page 1. Juga ada jus traffik yang lain bisa diterapkan kak

  2. sepi pembeli nya bukan karena faktor seo dan branding, tapi rata rata karena pedagang nya yg malas upload produknya satu persatu karena mereka masih nyaman dengan cara tradisional jual langsung di pasar, gk ribet upload dan update harga dan nulis deskripsi produknya satu satu karena produk mereka juga banyak, kalo pun di upload foto yg diupload kurang menarik pembeli, kadang resolusi foto kurang bagus dll. Penjual juga masih malas untuk mendelivery pesanannya ke konsumen karena kalo toko dipasar ditinggal buat delivery lantas siapa yg jaga tokonya dipasar. Saat checkout rata2 pembeli hanya diredirect ke whatsapp penjual, sehingga bila si pembeli mau order lagi gak perlu pakai website lagi tapi tinggal wa penjualnya lagi karena sudah tahu nomer whatsapp penjual nya

  3. Kalau goalnya transaksi di web, rasanya gak sesuai dengan behaviour orang yang beli di pasar, kalau mau kaku dengan itu, butuh effort lebih, karena bikin Web semacam itu garap 2 pasar yang berbeda, pasar penjual tradisional, dan pasar pembeli.

    Agar mudah kick off, mending diarahkan sebagai directory informasi penjual di pasar, kasih kontak nya mereka langsung.

    Kalau mau diarahkan untuk update harga dan siap transaksi online, dari penyedia Web yang siapkan foto produk & kolom harga, jadi penjual cukup update harga berkala, toh barangnya kurang lebih sama aja nama nya sayur, buah.

  4. 2018 saya sempat coba sedikit melakukan market research di jakarta terkait on demand sayur dengan menggandeng komunitas pedagang sayur.

    Ada beberapa hal yang jadi point
    1. Ibu ibu komplek sudah terbiasa dengan melakukan interaksi, memilih produk yang fresh sembari sedikit merumpi dengan tetangga.
    2. Beberapa rumah yang memiliki ART cenderung belanja secara berkala ke pasar untuk kebutuhan lebih dari 1 hari.

    Ada beberapa peluang sayur online yang bisa mendapatkan margin keuntungan besar.

    1. Kemitraan dengan pemilik kebun/ punya kebun sendiri.
    2. Jaringan tidak sebatas b2c tapi harus b2b karena penyerapan pasar konsumen akhir yang terbatas.
    3. Mesti ada layanan lain yang memungkinkan kamu untuk dilirik oleh ibu ibu.
    4. Kondisi pandemi membuka peluang new normal dalam membuka jenis transaksi baru dalam jual beli sayur dan sekarang sudah pada terbiasa saya rasa untuk beberapa area.

  5. Saya punya pengalaman beberapa tahun lalu di supermarket online dijakarta webnya di build pake opencart dengan domain rumahsegardotcom (perusahaanya sekarang udah off dan domainya expired dan di ambil sama orang china😅 trakhir saya chek) untuk marketnya mereka lebih condong offline selling dor to dor ke resto, cafe dll untuk suplai bahan dapur mereka. tapi ada juga pembeli perorangan rumahan beli lewat website. Saat itu bisa dibilang oderan rame terus tiap hari. Jadi kalo menurut saya pengalaman di perusahaan tersebut webnya dipake lebih ke fungsionalitas mempermudah pemilihan katalog produk sih. CMIW

  6. Latif Lf gan, mau tanya, mana yg lebih sering dipakai oleh customer sayurbox utk order, lewat aplikasi android atau website ?

  7. Kalau saya perhatikan semua jawaban yang masuk, sepertinya lebih mengarah pada bukan hal teknis web development nya ya…

    tapi lebih pada model business nya ..

    Karena secara urusan teknis relatif lebih mudah, tinggal cari yang expert

    Berhasil tidaknya sebuah website/platform yang di buat, tergantung pada model business nya itu sendiri….

    NB : Edisi lagi mau bikin web baru, tapi abis baca thread ini jadi mikir lagi harus beresin dulu BM nya

Leave a comment

Your email address will not be published.