8 comments

  1. Ya, jadi non AMP seperti yang di tulis Donny Wahyudi . Redirect url versi AMP ke non amp jika ingin pada masa perubahan url lama diarahkan ke versi non amp

  2. kalau asal main copot,
    halaman amp yang udah nongol di search engine..
    web nya bakalan error pass diklik 🤣

  3. AMP di blog-nya pakai apa? via plugin AMP, atau via theme? kalau pakai plugin, tinggal matiin aja pluginnya. Tidak perlu diapa2in nanti hilang sendiri. Satu hal yang sering disalahpahim banyak blogger/publisher adalah AMP dianggap sebagai index baru, padahal tidak.

    AMP itu bukan index/URL baru, melainkan hanya varian dari sebuah index. Maka itu, laman AMP dan Non AMP itu dihitung sama oleh Google, satu URL. Dia bagian dari SERP Enhancements dari sebuah page/index, sama kayak breadcrumbs dan mobile usability/frendly.

    Satu yang tak kalah penting, proses pemutakhiran data di index Google itu tidak instan, kadang sejam, dua jam, sehari, bahkan lebih dari seminggu, tidak pasti. Jadi tak berarti di laman hasil pencarian ujug2 langsung berubah ketika kita melakukan pemutakhiran data di blog/postingan kita.

  4. Melengkapi yang di atas soal pemutakhiran data SERP..

    Pemutakhiran data SERP memang tidak pasti, bisa cepat hitungan jam (bahkan menit), bisa pula lambat sampai hitungan hari. Kalau dari pengamatan/pengalaman saya, pemutakhiran data SERP yang lambat itu terjadi pada “indexed pages” yang jarang di/ter-query di Google search. Bahasa lainnya, sistem Google belum ter-trigger.

    Bila seperti itu, bisa diakalin dong? Kalau dari pengalaman saya sih bisa. Misal pada kasus Pemutakhiran data Google AMP cache. Untuk update cache AMP kan cara resminya seperti dijelaskan di sini: https://developers,google,com/amp/cache/update-cache, tapi saya sering pakai alternatif lain.

    Metode alternatif yang sering saya pakai adalah kunjungi saja page AMP-nya via Google Mobile SERP. Jadi ya sekalian tes keyword untuk artikel tersebut. Nanti dalam beberapa menit update sendiri. FYI, saya kan tiap publish artikel tidak langsung jadi, tapi 70% jadi (artikel setengah matang 😅) sudah saya publish dan keindeks.

    Nah, beberapa menit setelahnya baru saya bener2in itu postingan dengan melakukan “re-publish” 3-5 kali. Dalam beberapa menit itu, AMP cache saya di Google update beberapa kali juga. Sepraktis itu, sehingga saya hampir tak pernah pakai cara yang “resmi” seperti saya tulis di paragraf dua di atas.

    Kenapa bisa begitu? Seperti sudah saya tulis juga di paragraf pertama di atas. Sependek yang saya tahu, bot/crawler-nya Google itu akan melakukan verifikasi postingan tersebut setiap kali versi AMP-nya diakses. Istilahnya kalau dalam dunia cache2an, visitor dikasih “stale cache” dulu ketika Google ngecek ulang versi aslinya.

  5. Bonus.. 😅

    AMP adalah semacam format atau kerangka HTML baru yang hadir untuk meningkatkan kecepatan akses di pengguna/browser mobile. Jadi ada aturan baru di komponen2 yang menyusun sebuah web bila ingin pakai AMPHTML. Misal tag2 HTML-nya harus diubah atau disesuaikan, penggunaan CSS-nya kudu inline, script2 yang tidak boleh asal pasang/sembarangan, dll.

    Pakai AMP juga bukan berarti fitur web kita jadi terbatas. Banyak fitur di HTML (non-AMP) yang punya padanannya di AMPHTML. Bahkan web2 saya yang mendukung AMP, fitur dan tampilannya cenderung sama dengan versi non-AMP-nya. Tidak bisa sama persis 100% mungkin iya, tapi kalau dibilang banyak yang hilang, tidak!

    Setahu saya mengimplementasikan AMP itu sangat penting karena salah satu SERP Enhancements yang dianjurkan Google. Jadi, selama penopang traffic utama blog2 kita adalah mesin pencari Google, tidak ada alasan untuk tidak menuruti apa pun yang diminta atau dianjurkan oleh Google. Terlepas AMP juga ada kekurangan di sana-sini.

    Apakah SERP Enhancements sama dengan rank faktor? Tidak sama, SERP Enhancements itu sematjam fitur2 unik Google dalam menampilkan link web di SERP, seperti top stories, top carousel, breadcrumbs dll. Meski bukan rank faktor, SERP Enhancements kadang diperlukan oleh publisher kecil untuk sikut2an dengan situs2 raksasa, misal Tribun, Detik, Kompas dll.

    Selain itu, web2 yang mengimplementasikan AMP juga dapat bonus cache di SERP. Maksudnya, Google sudah me-request web assets URL/Page AMP pada saat visitor (peng-Googling) belum membuka halaman AMP tersebut. Konsekuensinya, saat user klik laman AMP di SERP ya langsung kebuka gitu aja seperti tanpa load.

    AMP juga merupakan satu dari sekian “propaganda Google” yang biasanya diawali dari sekadar menyarankan, lalu perlahan-lahan mulai mewajibkan (entah kapan). Saya sendiri sebagai “penghamba Google” memilih cara aman dengan jadi early adopter AMP dan produk2 Google lain yang sedang atau akan dipropagandakan.

    Namun begitu, harus siap juga bila sewaktu-waktu Google berubah pikiran di tengah jalan atau menggulirkan fitur/kebijakan yang tidak populer. Misal dalam salah satu rilisnya sekira dua tahun silam, Google menyebut beberapa (tidak semua) kelebihan AMP page di SERP ke depannya akan bisa dinikmati juga oleh page/index non-AMP.

Leave a comment

Your email address will not be published.